Dapatkan Penawaran Gratis

Perwakilan kami akan segera menghubungi Anda.
Email
Nama
Nama Perusahaan
Pesan
0/1000

Berita

Halaman Utama >  Berita

Reduksi Terbuka dan Fiksasi Internal dengan Pelat untuk Fraktur Hoffa

Time : 2026-06-18

I. Prinsip

Pertimbangan Umum
Fraktur Hoffa melibatkan area penopang berat kritis pada sendi lutut dan memerlukan reduksi anatomis serta stabilitas fiksasi yang mutlak. Secara umum, pelat penyangga (buttress plate) yang dikombinasikan dengan sekrup lag direkomendasikan. Namun, jika fragmen fraktur berukuran kecil, sekrup lag saja mungkin merupakan satu-satunya metode fiksasi yang layak. Teknik sekrup lag tidak langsung dari sisi anterior tidak direkomendasikan, karena ulir yang terlalu panjang gagal memberikan stabilitas yang memadai atau kompresi efektif terhadap fragmen. Jika kedua kondilus mengalami fraktur, prinsip yang sama berlaku.

Jenis Sekrup
Semua implan tidak boleh menonjol di atas permukaan artikular. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan sekrup lag countersunk (A) atau sekrup kompresi tanpa kepala (B). Untuk mencegah rotasi fragmen, setidaknya dua sekrup harus digunakan. Dalam prosedur ini, dapat dipilih sekrup kompresi tanpa kepala berlubang berdiameter 3,5 mm atau sekrup lag standar berdiameter 3,5 mm. Namun, ukuran sekrup lainnya dapat digunakan tergantung pada dimensi fragmen.

II. Posisi Pasien dan Pendekatan Bedah

Posisi Pasien
Pasien ditempatkan dalam posisi terlentang dengan lutut difleksikan 20°–30°.

Pendekatan Bedah
- Untuk fraktur Hoffa lateral, dapat digunakan pendekatan Swashbuckler atau pendekatan osteotomi tuberkel Gerdy.
- Untuk fraktur Hoffa medial, digunakan pendekatan inter-saraf medial.

III. Reduksi

Gunakan forsep reduksi ujung bola kecil atau spike tulang untuk melakukan reduksi fraktur, lalu fiksasi sementara dengan kawat K. Pastikan posisi kawat K tidak bertentangan dengan rencana penempatan pelat dan jalur sekrup.

IV. Fiksasi

Prinsip-prinsipnya
Untuk meningkatkan stabilitas dan menghindari beban aksial di lokasi fraktur (terutama pada tulang osteoporotik), digunakan pelat penyangga guna mencegah perpindahan fragmen ke arah proksimal. Pelat ditempatkan sesuai dengan lokasi fragmen yang tidak stabil; terkadang, fragmen semacam itu berada di sisi lateral. Berbagai jenis pelat tersedia; sebagai contoh, teks ini menggunakan pelat sempit berprofil rendah 3,5 mm.

Penerapan Pelat
Pelat diletakkan pada aspek posterior femur distal. Pelat harus ditempatkan sedesentral mungkin tanpa mengenai permukaan artikular. Agar pelat berprofil rendah dapat menyesuaikan diri secara rapat dengan femur, pasang sekrup kortikal standar dalam mode netral di proksimal garis fraktur.

Penyisipan Sekrup dalam Mode Netral
Pasang pelat secara proksimal dengan satu atau lebih sekrup bikortikal yang ditempatkan proksimal terhadap sekrup pertama. Jika sekrup dapat dipasang di area non-artikular, sekrup tambahan boleh dimasukkan secara distal pada pelat. Semua sekrup dimasukkan dalam mode netral.

Gambar Intraoperasi
Gambar intraoperasi menunjukkan fraktur Hoffa posterior yang telah direduksi dan sementara difiksasi dengan kawat K, serta diperkuat menggunakan pelat buttress posterior.

Radiograf Pascaoperasi
Pencitraan pascaoperasi memastikan penempatan pelat buttress posterior yang tepat.

Penempatan Kawat Panduan
Masukkan dua kawat panduan tegak lurus terhadap bidang fraktur, pastikan kawat tersebut tidak menembus korteks distal.

Periksa Posisi Kawat Panduan
Verifikasi posisi kawat panduan di bawah kendali intensifier gambar dalam tampilan lateral dan oblik.

Pemasangan Sekrup Kompresi Tanpa Kepala
Gunakan obeng berlubang untuk memasukkan sekrup kompresi tanpa kepala, dan periksa panjang sekrup yang sesuai di bawah tampilan lateral dengan intensifikasi gambar.

Pemasangan Sekrup Lag Kortikal
Alternatif: Penggunaan Sekrup Standar – Pasang sekrup lag mengikuti teknik standar untuk sekrup lag kortikal di bawah kendali intensifier gambar. Benamkan kepala sekrup agar tidak menonjol.

V. Contoh Kasus

Seperti ditunjukkan pada gambar, jika pelat dipasang secara lateral atau medial alih-alih posterior, kegagalan fiksasi sangat mungkin terjadi. Gambar menunjukkan ketidaksesuaian permukaan artikular, yang memerlukan operasi revisi.

VI. Rehabilitasi Pascaoperasi

Setelah fraktur femur distal, hambatan utama dalam pemulihan fungsi lutut secara penuh meliputi fibrosis dan perlengketan jaringan lunak di sekitar zona fraktur metafisis, jaringan parut kapsular, perlengketan intra-artikular, serta kelemahan otot. Latihan rentang gerak (range-of-motion) dini membantu memulihkan pergerakan sendi pada fase pascaoperasi awal. Selama fiksasi fraktur stabil, ahli bedah dan terapis fisik akan merancang program rehabilitasi progresif yang disesuaikan dengan masing-masing pasien. Rekomendasi yang diberikan di sini hanya untuk tujuan referensi dan tidak bersifat wajib.

Terapi Fungsional
Kecuali terdapat cedera atau komplikasi lain, mobilisasi lutut dapat dimulai segera setelah operasi. Gerakan aktif dan pasif pada lutut dan pinggul dapat dimulai pada hari pertama pascaoperasi. Fokus terapi harus diarahkan pada penguatan progresif otot quadriceps dan latihan mengangkat kaki lurus (straight-leg raises). Bersepeda statis tanpa beban serta latihan rentang gerak lutut secara pasif namun kuat membantu pasien mencapai mobilitas sendi optimal.

Beban Berat Badan
Menopang berat badan sebatas sentuhan (10–15 kg) dengan kruk atau walker dapat dimulai segera setelah operasi. Metode ini dilanjutkan selama 6–10 minggu, terutama untuk melindungi area sendi yang cedera, bukan wilayah diafisis. Dari minggu ke-6 hingga ke-10 pascaoperasi, penopangan berat badan sebatas sentuhan secara bertahap dialihkan menjadi penopangan berat badan penuh dalam jangka waktu 2–3 minggu. Secara ideal, pasien seharusnya telah mampu menopang berat badan penuh tanpa alat bantu (misalnya kruk) pada minggu ke-12 pascaoperasi.

VII. Tindak Lanjut

Penilaian Luka
Penyembuhan luka harus dievaluasi pada minggu ke-2 hingga ke-3 pascaoperasi. Selanjutnya, kunjungan tindak lanjut biasanya dijadwalkan pada minggu ke-6, ke-12, bulan ke-6, dan bulan ke-12. Rontgen serial memungkinkan ahli bedah menilai kemajuan penyembuhan fraktur.

Pengangkatan Implan
Pengangkatan implan tidak bersifat wajib, namun jika muncul gejala terkait implan setelah penyatuan fraktur, pengangkatan implan harus didiskusikan dengan pasien.

Profilaksis Tromboembolik
Profilaksis tromboembolik harus mengikuti pedoman institusi setempat.

Sebelumnya:Tidak ada

Berikutnya: Fiksasi Sekrup Intrameduler Antegrad untuk Fraktur Metakarpal: Teknik Baru

logo