Peringatan: Ini Adalah Jebakan dalam Pembedahan Fiksasi Internal untuk Fraktur Humerus Proksimal
I. Reduksi Terbuka dan Fiksasi Internal (ORIF) untuk Fraktur Humeral Proksimal
1. Melewatkan Fraktur Tuberositas Mayor dan Minor
Fraktur tuberositas mayor (GT) sering mengalami pergeseran ke arah posteriosuperior dan mungkin tampak hanya sedikit bergeser pada radiografi AP. Fraktur tuberositas minor (LT) yang terimpaksi umumnya terjadi bersamaan dengan dislokasi bahu posterior. Lakukan radiografi aksilaris dan scapular Y (transskapular), serta pertimbangkan pemeriksaan CT untuk menilai fraktur-fraktur ini secara akurat.
2. Mengabaikan Usia Fisiologis
Pertimbangkan usia fisiologis pasien (tingkat aktivitas dan tuntutan fungsional) saat mengambil keputusan bedah. Pasien lanjut usia yang sehat dan sangat aktif mungkin memperoleh manfaat bedah lebih besar dibandingkan pasien lebih muda yang tidak sehat dan tidak aktif.
3. Cedera Saraf Aksiler
Saraf aksiler berisiko mengalami cedera baik selama pendekatan deltopektoral maupun pendekatan pembelahan deltoid. Identifikasi dan lindungi saraf tersebut selama diseksi, penempatan retraktor, serta pemasangan pelat guna mencegah cedera.
4. Impingement Subakromial
Saat memperbaiki fraktur GT dengan sekrup, posisikan implan rendah di tuberositas untuk menghindari impingement subakromial selama gerak bahu.
5. Pemasangan Pelat Terlalu Tinggi
Kesalahan paling umum dalam fiksasi pelat adalah penempatan pelat terlalu tinggi di humerus proksimal. Hal ini dapat menyebabkan impingement subakromial. Pastikan pelat diposisikan cukup rendah guna menghindari komplikasi ini.

(Referensi Operasi AO)
6. Pengeboran Menembus Permukaan Artikular
Jangan lakukan pengeboran menembus permukaan artikular kepala humerus. Hal ini meningkatkan risiko penetrasi sekrup ke dalam sendi serta dapat menyebabkan kolaps varus dan artritis.
7. Fiksasi Tuberositas yang Tidak Memadai
Fiksasi tuberositas yang buruk dapat menyebabkan malunion, nonunion, dan hilangnya fungsi bahu. Gunakan kombinasi sekrup, jahitan, dan/atau konstruksi tension-band untuk mencapai fiksasi yang kuat, dengan memperhatikan kualitas tulang.
II. Nailing Intrameduler (IMN) untuk Fraktur Humeral Proksimal
1. Cedera Kortikal Selama Persiapan Kanal
Melanggar korteks selama persiapan kanal dapat menyebabkan cedera neurovaskuler atau penempatan/selipnya kuku secara tidak tepat. Gunakan teknik yang lembut dan ikuti kelengkungan alami humerus dengan menggunakan awl dan reamer.
2. Penyisipan Kuku Distal yang Tidak Memadai
Pastikan kuku dimasukkan secara memadai ke dalam fragmen distal/kanal meduler (minimal 5 cm di seberang fraktur) guna memberikan stabilitas yang memadai. Kegagalan melakukan hal ini dapat mengganggu fiksasi dan menyebabkan nonunion.
3. Kejuluran Kuku secara Proksimal
Hindari kejuluran kuku secara proksimal karena dapat menyebabkan iritasi pada rotator cuff dan impingement subakromial. Pastikan kuku dipasang dengan kedalaman yang sesuai (countersunk).
4. Pemeraman yang Tidak Sejajar/Tidak Tepat
Pemeraman harus dilakukan saat fraktur telah direduksi dan disejajarkan secara anatomis. Setiap malalignment varus atau translasi selama pemeraman akan menghasilkan deformitas serupa ketika kuku dimasukkan.
5. Penetrasi ke Korteks Distal
Hindari penetrasi korteks humerus distal dengan kuku, terutama pada tulang osteoporotik. Hal ini dapat menyebabkan fraktur humerus distal akibat tindakan medis atau nyeri. Pilih panjang kuku yang lebih pendek jika ragu antara dua pilihan panjang.
6. Penetrasi Sekrup
Hindari penetrasi sekrup melalui tulang subkondral/permukaan artikular ke dalam sendi menggunakan sekrup pengunci. Hal ini dapat menyebabkan kolaps kepala humerus dan tonjolan sekrup ke dalam sendi.
7. Fiksasi Sekrup Proksimal yang Tidak Memadai
Gunakan fiksasi sekrup maksimal (tiga hingga empat sekrup) alih-alih fiksasi sekrup minimal di humerus proksimal untuk memberikan stabilitas yang lebih baik, khususnya pada tulang osteoporotik.